







PSSI membeberkan bakal membentuk Badan Arbitrase yang akan menyelesaikan kasus dualisme organisasi yang terjadi di daerah-daerah.
Sekjen PSSI, Hadiyandra menjelaskan rencana pembentukan Badan Arbitrase ini merupakan usulan dari anggota Komite Eksekutif (Exco). Rencana tersebut nantinya akan dibahas pada rapat (Exco) di Jakarta pada 6 Mei 2013.
Dia juga menjelaskan fungsi Badan Arbitrase ini tidak tergantung pada Badan Arbitrase Keolahragaan Indonesia (BAKI) ataupun Badan Arbitrase Olahraga Republik Indonesia (BAORI).
"Badan ini akan menyelesaikan masalah organisasi yang ada. Jadi permasalahan yang ada tidak perlu dibawa ke BAKI ataupun BAORI," kata Hadiyandra di Kantor PSSI, Jakarta, Senin (29/4/2013) kemarin.
Hadiyandra memberi contoh kasus yang nantinya bisa disidangkan oleh Badan Arbitrase PSSI yakni kasus dualisme organisasi yang masih terjadi di daerah-daerah. Namun, permasalahan yang menyangkut pemain tetap diserahkan kepada Komisi Disiplin (Komdis) PSSI.
"Kewenangan Badan Arbitrase tidak sampai menangani kasus pemain," jelas mantan Deputi Sekjen PSSI Bidang Organisasi ini.
Selain membicarakan tentang rencana pembentukan Badan Arbitrase, Hadiyandra juga menjelaskan, rapat Exco nanti juga bakal membahas persiapan Kongres Biasa PSSI yang dijadwalkan tanggal 15 Juni 2013 di Surabaya.
"Istilahnya menyiapkan pra kongres serta mematangkan semua agenda yang akan dibahas nantinya," Hadiyandra menuturkan.
Pada kongres nanti kemungkinan akan membahas status enam anggota Komite Eksekutif PSSI yang mendapat sanksi.

Ketua umum PSSI, Djohar Arifin Husin, optimistis dengan peluang Timnas Indonesia usia muda di kualifikasi kejuaraan AFC, usai melihat hasil drawing di House AFC, Bukit Jalil, Malaysia, Jumat (26/4/13).
Tim U-16 Indonesia berada di Grup J bersama Jepang, Vietnam dan Filipina. Sementara untuk U-19, Skuad Garuda Muda berada di Grup G bersama Korea, Laos, Guam dan Philipina.
Menurut Johar, yang hadir langsung dalam acara drawing tersebut bersama manajer timnas U-19, John Rumainun, peluang Timnas kian besar karena Indonesia ditunjuk menjadi tuan rumah untuk kedua ajang kualifikasi tersebut.
“Peluang cukup besar. Apalagi untuk Timnas U-19 kita. Kita akan bersaing dengan Korea di Grup G, tanpa memandang remeh tiga tim lain, yakni Laos, Guam dan Filipina," kata ketua umum.
PSSI menjadikan ajang ini sebagai bagian dari proyek mereka untuk membentuk tim yang kuat menuju pentas Piala Dunia di masa yang akan datang. Caranya, dengan meraih hasil baik di Piala Asia 2014 Myanmar.
“Bisa finis di urutan empat Piala Asia, maka mimpi tampil di Piala Dunia untuk pertama kalinya akan terwujud,” ia menjelaskan.
John Rumainum juga cukup puas dengan hasil ini. Wakil presiden PT Freeport Indonesia itu siap memfasilitasi segala kebutuhan tim untuk berlatih.
“Kami siap mensuport semua kebutuhan pemain dan pelatih serta ofisial timnas U-19. Tidak masalah sekiranya akan kembali menggelar pelatnas di Timika. Secara kebetulan, fasilitas latihan dan kondisi alam di sana cukup mendukung,” John memungkasi.

Ketua umum PSSI, Djohar Arifin Husin, optimistis dengan peluang Timnas Indonesia usia muda di kualifikasi kejuaraan AFC, usai melihat hasil drawing di House AFC, Bukit Jalil, Malaysia, Jumat (26/4/13).
Tim U-16 Indonesia berada di Grup J bersama Jepang, Vietnam dan Filipina. Sementara untuk U-19, Skuad Garuda Muda berada di Grup G bersama Korea, Laos, Guam dan Philipina.
Menurut Johar, yang hadir langsung dalam acara drawing tersebut bersama manajer timnas U-19, John Rumainun, peluang Timnas kian besar karena Indonesia ditunjuk menjadi tuan rumah untuk kedua ajang kualifikasi tersebut.
“Peluang cukup besar. Apalagi untuk Timnas U-19 kita. Kita akan bersaing dengan Korea di Grup G, tanpa memandang remeh tiga tim lain, yakni Laos, Guam dan Filipina," kata ketua umum.
PSSI menjadikan ajang ini sebagai bagian dari proyek mereka untuk membentuk tim yang kuat menuju pentas Piala Dunia di masa yang akan datang. Caranya, dengan meraih hasil baik di Piala Asia 2014 Myanmar.
“Bisa finis di urutan empat Piala Asia, maka mimpi tampil di Piala Dunia untuk pertama kalinya akan terwujud,” ia menjelaskan.
John Rumainum juga cukup puas dengan hasil ini. Wakil presiden PT Freeport Indonesia itu siap memfasilitasi segala kebutuhan tim untuk berlatih.
“Kami siap mensuport semua kebutuhan pemain dan pelatih serta ofisial timnas U-19. Tidak masalah sekiranya akan kembali menggelar pelatnas di Timika. Secara kebetulan, fasilitas latihan dan kondisi alam di sana cukup mendukung,” John memungkasi.

PSSI terus berbenah untuk meningkatkan kualitas kompetisinya. Gebrakan terbaru yang akan dibuat federasi sepak bola nasional itu adalah mendatangkan perangkat pertandingan dari luar negeri.
Ketidaktegasan perangkat pertandingan, termasuk wasit, sudah lama menjadi sorotan dalam sepak bola nasional. Belum lagi tindak kekerasan dari pemain terhadap wasit. Kedua hal ini dinilai saling berkaitan dan solusinya hanya satu: membentuk korps wasit yang tegas dan adil.
PSSI saat ini masih kekurangan wasit lokal berkualitas untuk memimpin kompetisi domestik, baik Liga Super Indonesia (ISL) maupun Liga Primer Indonesia (IPL). Karena itu, PSSI berencana menggunakan tenaga wasit dari mancanegara.
“Paruh kedua kompetisi kita akan pakai wasit asing, dari Asia Tenggara. Kita bisa rekomendasi ke AFC,” kata Ketua Komite Wasit PSSI Rouberto Rouw kepada wartawan di Kantor PSSI Senyan, Jakarta, Jumat (26/4/13).
“Nanti kedepannya kita akan pakai syarat-syarat yang ketat untuk wasit-wasit itu, mana-mana yang bisa dipakai. Supaya tidak ada masalah seperti yang telah terjadi di lapangan selama ini,” ia menjelaskan.
Robertho menjelaskan bahwa total jumlah perangkat pertandingan yang dimiliki PSSI saat ini sekitar 1000 personel yang memimpin di berbagai kasta, mulai amatir hingga profesional tertinggi.
Penggunaan wasit asing ini diharapkan bisa mendorong wasit lokal untuk meningkatkan kualitasnya. Di masa mendatang, PSSI berharap Indonesia sudah memiliki wasit berkualitas dengan jumlah yang cukup untuk memimpin seluruh pertandingan domestik, bahkan dipercaya untuk memimpin laga internasional.
Komisi Disiplin PSSI sudah mengeluarkan sedikitnya dua keputusan menyangkut wasit dalam sepekan terakhir.

PSSI siap bertindak tegas kepada siapa saja bagi pesepak bola yang anarkis di lapangan hijau. Hal itu dilakukan demi memperbaiki sistem persepak bolaan di tanah air.
Contoh terbarunya yakni penjatuhan hukuman kepada penyerang Persiwa Wmena, Pieter Rumaropen. Akibat memukul wasit Muhaimin di pertandingan Persiwa dikalahkan 2-1 oleh Pelita Bandung Raya (PBR), Pietar dijatuhi hukuman larangan bermain seumur hidup.
Menanggapi keputusan itu, Ketua Umum PSSI, Djohar Arifin mendukungnya sebagai langkah untuk memajukan sepak bola di Indonesia agar terjauh dari kericuhan di atas lapangan.
“Saya mendukung keputusan Komdis (Komisi Disiplin) PSSI yang menjatuhkan hukuman kepada Pieter. Itu juga sebagai pelajaran bagi tim-tim lainnya agar bisa mengontrol emosi para pemain,” beber Djohar di Kantor PSSI, Kamis (25/4/2013).
“Kita sudah tidak bisa main-main lagi. Fair play harus ditegakkan di setiap pertandingan. Semua pemain harus menunjukkan permainan yang sportif,” dia menambahkan.
Dia menegaskan tidak memberi toleransi kepada pemain yang bertindak anarkistis, sekalipun itu pemain yang sudah mempunyai nama di kancah sepak bola Indonesia.
“Kalau ada pemain yang seperti itu lagi, maka tidak akan ada toleransi baginya,” ucap dia lagi.
Lebih lanjut, dia mengimbau wasit berlaku adil dalam memimpin pertandingan agar insiden pemukulan seperti itu tidak terjadi lagi.
“Wasit harus menjadi penengah supaya adil agar kejadian serupa tidak terulang,” Djohar menutup.

PSSI berjanji akan mengusut dugaan kasus pengaturan skor yang melibatkan Persibo Bojonegoro di ajang AFC Cup. Ketua Umum PSSI, Djohar Arifin siap menginvestigasi kasus tersebut hingga tuntas.
Tuduhan pengaturan skor itu terjadi ketika Persibo dibantai 8-0 menghadapi tim Hongkong, Sunrey Cave FC Sun Hei. Ketika itu Persibo hanya membawa 12 orang karena sedang mengalami krisis finansial.
AFC dan PSSI pun mencurigai Persibo telah melakukan pengaturan skor. Namun Persibo membantahnya dan berdalih kejadian itu memang disebabkan oleh krisis finansial yang sedang mereka alami.
Untuk mengusut kasus tersebut, Komisi Disiplin PSSI akan terbang ke Myanmar pada Jumat (26/4/2013) untuk keperluan investigasi, melengkapi dan menemukan fakta-fakta lainnya.
"Ada kecurigaan dari AFC (badan federasi sepakbola Asia) terkait dengan adanya suap,match fixing (pengaturan skor pertandingan). Makanya kami mengirim tim investigasi berharap bisa terbongkar," ungkap Djohar di kantor PSSI, Kamis (25/4/2013) siang.
PSSI selaku induk organisasi sepak bola di Indonesia hanya mempunyai kewenangan menjatuhkan sanksi yang bersifat keorganisasian, misalnya menonaktifkan keanggotaan klub dan pemain serta sanksi administratif lainnya.
"Tapi kalau memang nanti ditemukan ada pelanggaran lain seperti merugikan negara, bangsa, tentu kita akan laporkan ke polisi (pidana). Kita kan punya hak untuk melapor," tukas Djohar.







Cobalah bertanya pada anak-anak kecil yang senang bermain sepakbola. Jika suatu saat mereka jadi pemain bola dan terpilih mewakili timnas, apa mimpi mereka? Tentu rata-rata akan menjawab: "membawa timnas ke Piala Dunia!"